Tafsir An-Nisa 1-4

Tafsir surat An-nisa ayat 1-4

إعداد عاصم خليل الله

سورة النساء

بسم الله الرحمن الرحيم

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

Allah memerintahkan kepada Makhluk-Nya agar bertakwa kepada-Nya,yaitu menyembah kepada-Nya semata dan tiada sekutu baginya, sekaligus juga mengingatkan bahwa dengan kekuasaaanya telah menciptakan Adam As

وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

Siti Hawa diciptakan Allah dari tulang rusuk sebelah kiri bagian belakang adam ketika sedang tidur. Saat Adam terbangun ia meras kaget setelah melihatnya kemudian mereka langsung jatuh cinta. Dan akhirnya mereka dinikahkan oleh Allah.

وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Allah mengembangbiaakan banyak laki-laki dan perempuan dari Adam dan Hawa,lalu menyebarkan mereka keseluruh dunia dengan berbagai macam jenis, sifat,warna kulit dan bahasa mereka. Kemudian hanya pada Rabb-Nya lah mereka kembali.

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

Maksudnya, bertakwa kalian kepada Allah dengan taat kepada-Nya. Menurut Ad-Dhahak, makna ayat adalah ‘bertakwalah dengan menyebut nama-Nya’. Bertakwalah kalian kepada Allah dalam silaturrahmi. Dengan kata lain, janganlah kalian memutuskannya. Melainkan hubungkanlah dan berbaktilah kepadanya. Demikian yang dikatakan Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Hasan, Ar-Rabi’ dan Ad-Dhahak.

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Dia mengawasi semua keadaan dan semua perbuatan kalian. Allah telah meyebutkan bahwa asal mula makhluk ialah dari seorang ayah dan ibu. Makna yang bisa diambil adalah agar kita bisa saling mengasihi dan saling memberi dengan yang lain.

An-Nisa, ayat 2-4

وَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا (2) وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا (3) وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا (4)

Allah memerintahkan agar menyerahkan harta benda anak-anak yatim apabila mereka telah mencapai usia baligh yang sempurna dan dewasa. Allah melarang memakan harta anak yatim serta menggabungkannya dengan harta yang lainnya. Karena itu Allah berfirman :

وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, “Janganlah kalian menukar harta milik kalian dengan harta haram milik orang lain”. Yakni janganlah menukarkan harta kalian yang halal, lalu kalian makan harta mereka yang haram bagi kalian.

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

Mujahid, Said ibnu Jubair, Ibnu Sirin, Muqatil ibnu Hayyan, As-Sa’di, dan Sufyan Ibnu Husain mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah ‘janganlah kalian mencampur adukkan harta kalian dengan harta anak-anak yatim lalu kalian mamakannya secara bersamaan tidak dipisahkan.

Dan yang dimaksud huban kabiran adalah dosa besar.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى

Yakni apabila dibawah asuhan seseorang diantara kalian terdapat seorang anak perempuan yatim, dan ia merasa khawatir bila tidak memberikan mahar misil-nya hendaklah ia beralih mengawini wanita yang lain, karena sesungguhnya wanita yang lain cukup banyak, Allah tidak akan memberikan kesempitan baginya.

Imam Bukhari mengatakan telah menceritakan kepada kami…dan dari Aisyah bahwa ada seorang laki-laki yang mempunyai anak yatim kemudian menikahinya. Sedang anak itu mempunyai sebuah kebun kurma yang pemeliharaanya dipegang oleh lelaki tersebut dan anak itu tidak mendapatkan sesuatu maskawin darinya. Maka turun firman-Nya

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى

Siti Aisyah mengatakan, “Hai anak saudara perempuanku, anak yatim perempuanyang dimaksud adalah yang berada dalam asuhan walinya dan berserikat dengannya dalam harta bendanya. Lalu si wali menyukai harta dan kecantikannya, maka dia mengawininya, selanjutnya ia memberikan mas kawin yang sama seperti yang diberikan oleh orang lain kepadanya.(tidak sepantasnya). Maka mereka dilarang menikahi anak-anak yatim seperti itu kecuali jika dapat berlaku adil dalam masalah mas kawinnya. Jika tidak maka dilarang.

مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

Nikahilah wanita mana pun yang kamu sukai selain dari anak yatim jika kamu suka, boleh dua, tiga dan boleh empat orang. Imam Syafi’i mengatakan,”Sesungguhnya sunnah Rasulullah yang menjelaskan wahyu dari Allah telah menunjukkan bahwa seseorang selain Rasulullah tidak boleh mempunyai istri lebih dari empat orang wanita”. Perkataan ini telah disepakati semua kalangan ulama kecuali sebagian dari ulama Syiah ada yang mengatakan tanpa batas. Sebagian berpegang pada perbuatan Rasulullah menghimpun istri sampai 9 orang. Bahkan pada zaman Umar ada mualaf bernama Gailan yang beristri 10 orang. Akhirnya diperintahkan untuk menceraikan 5 orang istri damn memilih 4 diantaranya. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar dan diriwayatkan sama oleh Imam Nasai dalam kitab sunahnya.

Pada garis besarnya tersimpulkan bahwa seandainya diperbolehkan menghimpun lebih dari 4 orang istri niscaya Rasulullah memperbolehkan tetapnya semua istri Gailan yang sepuluh orang itu, mengingat ternyata semua istrinya pun ikut masuk islam. Dan akhirnya ada larangan menghimpun istri lebih dari 4 orang dengan alasan apapun. Umairah Al-Asadi pernah mengatakan, “Aku masuk islam dalam keadaan mempunyai 8 orang istri lalu aku tuturkan itu pada Rasulullah SAW. Akhirnya Rasul memerintahkan untuk mencerai 4 dan membiarkan yang 4 lainnya.

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Maksudnya, jika kalian merasa takut tidak akan dapat berlaku adil bila beristri banyak, yakni adil terhadap sesama mereka, adil dalam hal materi tentunya. Tafsir dalam ayat ini sebagaimana yang ditakutkan memiliki tanggungan yang banyak karena berbilangnya istri dari kalangan merdeka, maka ditakutkan pula hal yang sama karena berbilangnya istri dari kalangan hamba sahay perempuan.

Pendapat yang sahih adalah apa yang dikatakan oleh jumhur sehubungan dengan tafsir ayat ini :

ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا (3)

Yakni tidak berbuat zalim. Dikatakan ala fil hukmi apabila seseorang berbuat aniaya, berat sebelah dan curang dalam keputusan hukumnya.

Firman Allah SWT :

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan istilah nihlah adalah mahar. Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah bahwa nihlah adalah mas kawin yang wajib. Pada garis besarnya perkataan mereka menyatakan bahwa seorang lelaki diwajibkan membayar mas kawin kepada calon istrinya sebagai suatu keharusan. Hendaknya itu dilakukan dengan senang hati. Sebagaimana seorang memberikan hadiahnya secara suka rela. Jika pihak istri dengan suka hati sesudah penyebutan mas kawinnya mengembalikan sebagian dari mas kawin itu kepadanya, maka pihak suami boleh dan halal memakannya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan :

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا (4)

Ibnu Abu Hatim mengatakan dari Ali mengatakan, “ Apabila seseorang diantara kalian sakit hendaklah ia meminta uang kepada istri sebanyak 3 dirham untuk membeli madu dan mencampurnya dengan air hujan sebagai minuman yang sedap lagi baik akibatnya. Sebagai obat yang diberkati.

Hasyim meriwayatkan bahwa mahar dimiliki oleh orang tua dari anak perempuan tetapi kemudian turun ayat yang melarang tindakan itu

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Para sahabat bertanya,”Wahai Nabi, berapakah tanda pertalian diantara mereka?” Rasulullah menjawab, “Jumlah yang disetujui oleh keluarga mereka”.

hal 438

Waallahu alam bi showab

Sumber : Tafsir Ibnu Katsir juz 4

14.11 WIB Kamis, 19 Mei 2011

One thought on “Tafsir An-Nisa 1-4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s