MULUTLU HARIMAUMU!!!!!!!!

Lidah Tak Bertulang, Waspadai Bahaya Lisan

Oleh: Dhaniel Ashim

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang
begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus
agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah
yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-
benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang
baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang
baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan
Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun
harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Ta’ala
berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089
dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk
kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah
dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam
menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.
Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa
dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling
menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah
seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah
karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci
oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh
dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang
tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam
neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-
Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits
Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat
jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak
berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan
yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap
maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhush
Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: “Apabila dia ingin
berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka
berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga
nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah
mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban
syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali
pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan
diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak
berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada
pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak
terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

KEUTAMAAN MENJAGA LISAN

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan
mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya.
Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk
pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
1. Anas bin Malik: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar
lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan
membahayakan.”
2. Abu Ad-Darda’: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah
satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang
yang berbicara dengan ilmu.”
3. Al-Fudhail: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang
adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
4. Sufyan Ats-Tsauri: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut
ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas
menyebarkannya.”
5. Al-Ahnaf bin Qais: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan
lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan
menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan
kewibawaan terhadap dirinya.”
6. Abu Hatim: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.
Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu,
jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila
tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil
(bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang
menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak
(dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya,
tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada
lisan.”
8. Mu’arrifh Al-‘Ijli: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya
semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang
bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif
menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”
(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad
bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

BUAH MENJAGA LISAN

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-
Nya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan
Muslim no. 48)
2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang
Islam, beliau menjawab:

(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat
dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11
dan Muslim no. 42)
Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini
menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan
ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin, 3/8)
3. Mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke surga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari
Sahl bin Sa’d:

Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua
rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku
akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)
Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546,
dari shahabat Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di
antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya
(kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya
kepadanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa
yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata
Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)
Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan
dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun
Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai
oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang
ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada
hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi
kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah
Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

والله اعلم

Sumber: Majalah asy-Syari’ah

Kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan yang keluar dari mulut manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji, dsb.

Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini menjadi bermakna dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman :

Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku. “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” QS. 17: 53

”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” QS. 16:125

Rasulullah SAW bersabda :

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Muttafaq alaih

“ Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya maka dengan ucapan yang baik “
Muttafaq alaih

“Ucapan yang baik adalah sedekah”
HR. Muslim.
 

KEUTAMAAN DIAM

Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak ada yang dapat menahannya kecuali diam. Oleh karena itu dalam agama kita dapatkan anjuran diam dan perintah pengendalian bicara. Sabda Nabi:

Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga” HR. Al Bukhariy

“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya” HR Ahmad

Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab : “dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan” HR. At Tirmidziy


Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang bisa menjaga mulutnya, Allah akan tutupi keburukannya”
HR. Abu Nuaim.

Ibnu Mas’ud berkata : “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”

Abu Darda berkata : “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara.

MACAM-MACAM AFATUL-LISAN, PENYEBAB DAN TERAPINYA
Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat kelompok : murni membahayakan,  ada bahaya dan manfaat, tidak membahayakan dan tidak menguntungkan, dan  murni menguntungkan.

Ucapan yang murni membahayakan maka harus dijauhi, begitu juga yang mengandung bahaya dan manfaat. Sedangkan ucapan yang tidak ada untung ruginya maka itu adalah tindakan sia-sia, merugikan. Tinggallah yang keempat yaitu ucapan yang menguntungkan.

Berikut ini akan kita bahas afatul lisan dari yang paling tersembunyi sampai yang paling berbahaya. Ada dua puluh macam bahaya lisan, yaitu :

 

1.      Berbicara sesuatu yang tidak perlu
Rasulullah SAW bersabda : “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” HR At Tirmidziy

Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan  yang seandainya anda diam tidak berdosa, dan  tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke orang lain “apakah anda puasa, jika dijawab YA, membuat orang itu riya, jika dijawab TIDAK  padahal ia puasa, maka dusta, jika diam tidak dijawab, dianggap tidak menghormati penanya. Jika menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari – cari bahan, dst.    

Penyakit ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu. Atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekedar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan ini termasuk dalam perbuatan tercela.

Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang paling berharga. Jika tidak dipergunakan secara efektif maka akan merugikan diri sendiri. selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari  mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi tangga ke sorga atau jaring jebakan ke neraka. Secara aplikatif kita coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.

 

2.      Fudhulul-Kalam ( Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang  tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua ini “fudhul” (kelebihan). Firman Allah : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh  bersedekah, berbuat ma’ruf, atau perdamaian di antara manusia” QS.4:114.

Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya “ HR. Al Baghawiy.

Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidak diucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka) sesungguhnya lisannya mengalir saja”

Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di antara fitnah orang alim adalah ketika ia lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Jika orang lain sudah cukup berbicara, maka mendengarkan adalah keselamatan, dan dalam berbicara ada polesan, tambahan dan pengurangan.

 

3.      Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil adalah pembicaraan ma’siyat, seperti menceritakan tentang perempuan, perkumpulan selebritis, dsb, yang tidak terbilang jumlahnya. Pembicaraan seperti ini adalah perbuatan haram, yang akan membuat pelakunya binasa. Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga hari kiamat” HR Ibn Majah.

“ Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil” HR Ibnu Abiddunya.

Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya, mereka menjawab: “ …dan adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya” QS. 74:45

Terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan Al Qur’an, Allah SWT memperingatkan orang-orang beriman :”…maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka.” QS. 4:140

4.      Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan
Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan  orang lain  dengan menyerang dan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat. Biasanya orang yang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin menunjukkan kesalahan orang lain agar terlihat kelebihan dirinya.

Hal ini biasanya disebabkan oleh taraffu’ (rasa tinggi hati) karena kelebihan dan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan” HR. At Tirmidziy

Imam Malik bin Anas berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan”

 

5.      Al Khusumah (pertengkaran)
Jika orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkan lawan dan mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah adalah sikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak atau harta orang lain, yang bukan haknya.  Sikap ini bisa merupakan reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari awal berbicara.

Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar” HR. Al Bukhariy

 

6.      Taqa’ur fil-kalam (menekan ucapan)
 Taqa’ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakan diri bersyaja’ dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”. HR. Ahmad

Tidak termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam memberikan nasehat, selama tidak berlebihan atau  penggunaan kata-kata asing yang membuat pendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama dari khutbah adalah menggugah hati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di sinilah dibutuhkan bentuk-bentuk kata yang menyentuh.

 

7.      Berkata keji, jorok dan caci maki
Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn seksual, dsb. Hal ini termasuk  perbuatan tercela yang dilarang agama. Nabi bersabda :

“Jauhilah perbuatan keji. Karena sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yang keji dan perbuatan keji” dalam riwayat lain :”Surga itu haram bagi setiap orang yang keji”. HR. Ibnu Hibban

“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” HR. At Tirmidziy.

Ada seorang A’rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi : Sabda Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencela kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapapun. Kata A’rabiy tadi : “Sejak itu saya tidak pernah lagi mencaci maki orang”.  HR. Ahmad.

“Termasuk dalam dosa besar adalah mencaci maki orang  tua sendiri” Para sahabat bertanya : “Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua sendiri ? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orang tuanya”. HR. Ahmad.  

Perkataan keji dan jorok disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yang menyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan dengan orang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang durhaka lainnya.

 

8.      La’nat (kutukan
Penyebab munculnya kutukan pada sesama manusia biasanya adalah satu dari tiga sifat berikut ini, yaitu : kufur, bid’ah dan fasik.  Dan tingkatan kutukannya adalah sebagai berikut :

a.       Kutukan dengan menggunakan sifat umum, seperti : semoga Allah mengutuk orang kafir, ahli bid’ah dan orang-orang fasik.

b.       Kutukan dengan sifat yang lebih khusus, seperti: semoga kutukan Allah ditimpakan kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi, dsb.

c.       Kutukan kepada orang tertentu, seperti : si fulan la’natullah. Hal ini sangat berbahaya kecuali kepada orang-orang tertentu yang telah Allah berikan kutukan seperti Fir’aun, Abu Lahab, dsb. Dan orang-orang selain yang Allah tentukan itu masih memiliki kemungkinan lain

Kutukan yang  ditujukan kepada binatang, benda mati , atau orang tertentu yang tidak Allah tentukan kutukannya, maka itu adalah perbuatan tercela yang haus dijauhi. Sabda Nabi :

“ Orang beriman bukanlah orang yang suka mengutuk” HR At Tirmidziy

“Janganlah kamu saling mengutuk dengan kutukan Allah, murka-Nya maupun jahanam” HR. At Tirmidziy.

“Sesungguhnya orang-orang  yang saling mengutuk tidak akan mendapatkan syafaat dan menjadi saksi di hari kiamat” HR. Muslim

 

  • 9.      Ghina’ (nyanyian) dan Syi’r (syair)
    Syair adalah ungkapan yang jika baik isinya maka baik nilainya, dan jika buruk isinya buruk pula nilainya. Hanya saja tajarrud ( menfokuskan diri) untuk hanya bersyair adalah perbuatan tercela. Rasulullah SAW bersabda :

    “Sesungguhnya memenuhi rongga dengan nanah, lebih baik dari pada memenuhinya dengan syair” HR Muslim. Said Hawa mengarahkan hadits ini pada syair-syair yang bermuatan buruk.

      Bersyair secara umum bukanlah perbuatan terlarang jika di dalamnya tidak terdapat ungkapan yang buruk. Buktinya Rasulullah pernah memerintahkan Hassan bin Tsabit untuk bersyair melawan syairnya orang kafir.

     

10.  Al Mazah (Sendau gurau)

Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama, kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan sering kali terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalah gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain,  tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan. Seperti gurauan Nabi dengan istri dan para sahabatnya.

Kebiasaan bergurau akan membawa seseorang pada perbuatan yang kurang berguna. Disamping itu kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.

Umar bin Khatthab berkata : “Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan/dianggap hina”.

Said ibn al Ash berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, janganlah bercanda dengan orang mulia, maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula bercanda dengan bawahan maka nanti akan melawanmu” 

11.  As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza’( cemoohan)
Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan aib/kekurangannya  untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau peragaan di hadapannya. Jika dilakukan tidak di hadapan orang yang bersangkutan disebut ghibah (bergunjing).

Perbuatan ini terlarang dalam agama. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok  dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok “ QS. 49:11

Muadz bin Jabal ra. berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Barang siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya” HR. At Tirmidziy

 

  • 12.  Menyebarkan rahasia
    Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan mengecewakan orang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali. Rasulullah SAW bersabda :

     “Sesungguhnya orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalah orang laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia ceritakan rahasianya”.  HR. Muslim

     

  • 13.  Janji palsu
    Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.

     Firman Allah : “Wahai orang-orang beriman tepatilah janji…” QS 5:1

    Pujian Allah SWT pada Nabi Ismail as: “Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya..” QS 19:54

    Rasulullah SAW bersabda : “ada tiga hal yang jika ada pada seseorang maka dia adalah munafiq, meskipun puasa, shalat, dan mengaku muslim. Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khiyanat” Muttafaq alaih dari Abu Hurairah

     

  • 14.  Bohong dalam berbicara dan bersumpah
    Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang paling busuk. Rasulullah SAW bersabda :

    “Sesungguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai  pembohong” Muttafaq alaih.

    “Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menegur dan memandangnya di hari kiamat, yaitu : orang yang membangkit-bangkit pemberian, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang memanjangkan kain sarungnya” HR Muslim.

    “Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang, celaka dia, celaka dia” HR Abu Dawud dan At Tirmidziy

  • 15.  Ghibah (Bergunjing)
    Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat: ”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi: “ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya.” Para sahabat bertanya : “Jika yang diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi : ”Jika memang ada itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada” HR Muslim.

    Al Qur’an menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara sendiri (QS. 49:12)

    Ghibah bisa  terjadi dengan berbagai macam cara, tidak hanya ucapan, bisa juga tulisan, peragaan. dsb.

    Hal-hal yang mendorong terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut ini :

    1.       Melampiaskan kekesalan/kemarahan

    2.       Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita

    3.       Merasa akan dikritik atau dcela orang lain, sehingga orang yang dianggap hendak mencela itu jatuh lebih dahulu.

    4.       Membersihkan diri dari keterikatan tertentu

    5.       Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya

    6.       Hasad/iri dengan orang lain

    7.       Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu

    8.       Menghina dan meremehkan orang lain

    Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu dengan ilmu dan amal.

    Secara umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan dengan murka Allah. Kemudian mencari sebab apa yang mendorongnya melakukan itu. Sebab pada umumnya penyakit itu akan mudah sembuh dengan meotong penyebabnya.

    Menceritakan kekurangan orang lain dapat dibenarkan  jika terdapat alasan berikut ini:

    1.       Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi

    2.       Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran

    3.       Meminta fatwa,seperti yang dilakukan istri Abu Sufyan pada Nabi.

    4.       Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang

    5.       Orang yang dikenali dengan julukan buruknya, seperti al a’raj (pincang), dst.

    6.       Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan terang-terangan (mujahir)

     

    Hal-hal penting yang harus dilakukan seseorang yang telah berbuat ghibah adalah :

    1.       Menyesali perbuatan ghibahnya itu

    2.       Bertaubat, tidak akan mengualnginya lagi

    3.       Meminta maaf/dihalalkan dari orang yang digunjingkan.

     

  •  

    16.  Namimah (adu domba)

    Namimah adalah menyampaika pembicaraan seseorang kepada orang lain

     

    17.  Perkataan yang berlidah dua

    18.  Menyanjung

    19.  Kurang cermat dalam berbicara (asal bunyi)

    20.  Melibatkan diri secara bodoh pada beberapa pengetahuan dan pertanyaan yang menyulitkan

Ketika lisan mengalami kerusakan, maka akibat pastinya adalah meluncurnya produk lisan yang membahayakan orisinalitas jiwa manusia. Baik jiwa orangyang mengeluarkannya atau pun jiwa yang menangkapnya. Selanjutnya,kesadaran azali kita, seperti ketika kita di tanya oleh Sang Pencipta di alamazali, ³Apakah aku Rabb kalian?´ dan kita menjawab, ³Benar´, akan menjadirusak pula karena diperkosa oleh berbagai produk lisan yang menggencetnya.Akibatnya jiwa pun menangis karenanya. Sebab jiwa pada dasarnya/secaraorisinil senantiasa cenderung mencari ketenangan, rasa nyaman dan kepuasan.

Kecenderungan itu akan menuntut pencarian pada segala sesuatu di luardirinya yang mampu menjaga dan berkesesuaian dengan orisinalitas jiwa. Olehkarena itu, jiwa-jiwa pun akan menjerit bila dibombardir oleh produk lisanyang buruk sebab hal itu sangat bertentangan dengan kecenderungannya. Jikainteraksi jiwa dengan produk lisan yang buruk berlangsung secara terusmenerus, maka orisinalitas jiwa akan tergerus sedikit demi sedikit yang padaakhirnya akan melahirkan insensifitas yang mengancam keselamatannya. Lebihparah jika sampai pada tingkat kesadaran azalinya terbenam oleh ingar-bingarproduk lisan.

Selain lisan, hati adalah komponen penting lain, yang posisinya sangatmenentukan perjalanan hidup manusia. Lathifah rabbaniyyah, yang amat halusdan lembut; yang tidak kesatmata, tak berupa, dan tak dapat diraba; yangbersifat Rabbani dan ruhani ini, pada hakikatnya merupakan inti manusia.Dalam bahasa Arab, makna literal qalb adalah ´berbalik´ atau ´berputarbalik´. Allah-lah yang membulak-balikkan hati manusia. Dalam sebuah doadikatakan ´ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ¶ala dinik.´

Hati laksana sebuah radar yang terus-menerus berputar dan mengamati secarasepintas. Ia selalu mencari yang suci. Hati adalah cermin yang dapatmemantulkan cahaya Ilahiah. Imam Ghazali mengatakan, ´Wahai teman!Hatimu adalah cermin yang mengkilap.

Kau harus membersihkan debu yangmengotorinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan rahasia-rahasiaIlahi. Oleh karena itu hati merupakan potensi utama yang dianugerahkankepada manusia. Oleh Allah Swt, hati diberi kemampuan untuk menyerap,menghayati, memahami, dan mengenal segala sesuatu yang diinderai dandipercayainya demi kemajuan eksistensinya. Hati adalah medium kemajuanspiritualitas manusia.

Oleh karena itu kemajuan kemanusiaan tidak hanya ada pada otak semata,melainkan ada kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal, danpikiran, yaitu kekuatan hati. Sebab, kekuatan ini bukan hanya mengantarkanmanusia meraih sukses namun juga mampu mengantarkan pada kemuliaanhidup dan kemajuan psiritualnya yang menentukan kualitas dirinya. Dalam kajian sufi, hati dilukiskan sebagai raja yang mengatur dan memerintahkanotak, pikiran dan panca indra manusia.

Allah Swt mengajarkan kepada manusia agar selalu mendengarkan suara hatinuraninya dan karena itu kewajiban kita untuk memelihara kejernihannya.Sebab dengan kejernihan hati diharapkan sifat-sifat mulia yang tertanam didalamnya dapat memancar ke prilaku lahiriah.

Sesungguhnya di dalam hati manusia sudah tertanam percikan sifat-sifat³Illahiah´, sifat-sifat maha mulia Allah Swt, telah bersemayam. Dapatdikatakan, semua yang hak, terindah, dan terbaik bersarang di dalamnya.

Melalui pemeliharaan yang serius hati manusia bisa terang benderang,bercahaya dengan cahaya dari sifat-sifat-Nya Yang Maha Mulia, Yang MahaAgung, dan Maha sempurna. Medium pemeliharaaan yang paling efektif adalahdengan makrifat, yakni ilmu-ilmu yang berakar pada tauhid, mengesakan AllahSwt. 

Selanjutnya dengan makrifat yang terus mekar di hati, cahaya kebesaran Allah,keindahan, dan keagunganNya akan terus memancar 

Kesadaran batinnyatentang yang benar dan salah akan selalu hidup. Dengan cahaya itu ia dapatmenagkap kemahamuliaan Allah Swt, mengambil dan mengamalkan segalakehendak-Nya, dan melakukan segala sesuatu yang membawa manfaat, sertamenjauhi sejauh-jauhnya segala yang membawa madarat. Memang hati menjadipusat kebaikan, ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan hakiki.

Hati yang jernih dan sehat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan padaakhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nuraniyang bening. Socrates mengidentikkan suara hati dengan suara peringatan batinyang diaanggapnya berasal dari Allah. Filosof lain menyebutnya sebagaipercikan ilahi yang mampu menyediakan pedoman dalam kehidupan.

Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu berpikir positif,betindak bijak, cerdas, dan berbagai sifat-sifat mulia. Dengan hati yang jernih,kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih

produktif untuk meraih kemuliaan hakiki. Sebab, seperti dikemukakan parapemikir, manusia yang suara hatinya jernih karena berada dalam wadah hatiyang jernih merupakan fakultas akal yang mampu membedakan yang benardan yang salah.

Akan tetapi hati tidak akan dapat dijernihkan dengan cahaya ilahiah jika iateralingi oleh nafsu duniawi dan ternodai oleh maksiat.

Kecerahannyaditentukan oleh ketulusannya dalam mempersembahkan dirinya kepada Allahyang merupakan tujuan awal bagi manusia dan kesaksian zalinya.

Ibnu ¶Atha`illah dalam al-Hikam mengattakan, ´Bagaimana hati dapat bersinarsementara bayang-bayang dunia terlukis dalam cerminnya? Atau, bagaimanahati dapat berangkat menuju Allah sedangkan ia masih terbelenggu olehsyahwatnya? Atau, bagaimana hati akan antusias menghadap hadirat-Nya jika ia belum suci dari ´janabah´ kelalaiannya? Atau, bagaimana hati mampumemahami kedalaman rahasia-rahasia sedangkan ia belum bertaubat darikesalahannya?.

Lebih dari itu hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannyadikarenakan ia tempat bersemayamnya iman. Hati juga menjadi kuncihubungan dengan sesama manusia. Bahkan ia adalah sumber kesehatan fisik,kekuatan mental, dan kecerdasan emosional. Dalam kajian sufi hati menyimpankecerdasan dan sekaligus kearifan yang terdalam bagi manusia. Ia adalah lokusmakrifat, genosis, atau pengetahuan spiritual. Dalam sebuah riwayat RasulullahSaw bersabda, ´Sesungguhnya hati seorang mukmin mampu memuat segalasesuatu yang tidaka dapat dimuat oleh langit dan bumi.

Oleh sebab posisi hati adalah terminal yang mengatur hubungan manusiadengan Tuhan, sesamanya, dan alam, maka kejernihan hati dapat menjadikanhubungan itu sehat, baik, dan konstruktif. Hubungan dengan Tuhannya akanpenuh ketundukan dan kecintaan. Hubungan dengan sesamanya akanmengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormatisehingga menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Hubungan dengan alam dan lingkungannya dengan etik yang menyebabkan tidak menimbulkan kerusakan.

Begitulah posisi strategis hati sangat menentukan kemanausiaan seseorang.Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur Rasulullah Saw bersabda, “Ingatlahsesungguhnya pada jasad itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklahseluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasad. Ingatlah,ia adalah hati.”

Oleh sebab itu jika hati rusak maka seluruh tata hubungan menjadi rusak pulayang menyebabkan malaikat pun menangis. Dalam kitab al-Tadzkirah fi Ahwalal-Maut wa Umur al-Akhirah, Imam al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat dariImam al-Zuhri, Wahab bin Munabbih, dan lain-lainnya. Dalam riwayat itudiceritakan bahwa ketika itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawakan tanah kepadaNya

Ketika diambil oleh Jibril, tanah memohon perlindungan kepada Allah dariJibril, sehingga Jibril tidak jadi membawanya. Hal yang sama juga terjadi padaMalaikat kedua yang diutus. Akan tetapi, tidak demikian halnya pada malaikatyang ketiga. Ia justru berhasil membawakan tanah kepada Allah swt. Lalu Allahbertanya kepadanya, ´Apakah tanah itu tidak memoho n perlindungan kepada Ku dari kamu ?´ Malaikat menjawab, ´Ya´. Allah bertanya lagi, ´

Kenapa kamu tidak merasa kasihan kepadanya, seperti kedua tanganmu?´. Malaikatmenjawab, ´Aku lebih mengutamakan taat kepada Engkau dari padamengasihaninya (tanah)´. Allah berfirman, ´

Pergilah!

Kamu adalah malaikat maut, yang aku beri kuasa untuk mencabut nyawa seluruh makhluk ´.Mendengar itu, malaikat menangis.

Kemudian Allah bertanya lagi, ´

Kenapa kamu menangis?´ Malaikat pun menjawab : ´ Ya Tuhan, dari tanah ini Engkauciptakan para nabi dan makhluk pilihan lainnya. Dan, Engkau tidak menciptakan makhluk yang lebih mereka benci daripada kematian. Jika merekamengenali aku, mereka pasti membenci dan mencaci maki aku´.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s