SENANDUNG UNTUK IBU

SENANDUNG UNTUK IBU

                Jumat nan ceria. Cerah cuaca secerah wajahku. Hari yang paling spesial untuk semua mahasiswa termasuk diriku. Teman-temanku sering menjulukiku dengan sebutan anak mami. Karena apa?? karena diriku sering pulang hanya sekedar melihat wajah ibuku yang semakin keriput saja. Garis-garis di muka menjadi tanda betapa kerasnya beliau berusaha untuk membahagiakan anak-anaknya. Dengan julukan seperti itu tak menjadi masalah bagiku. Yah, beginilah diriku. Mungkin terlalu perasa. Terkadang terlalu mengandalkan logika. Jadi sering aku tidak paham jika perasaan yang berbicara. Karena logika tidak mempunyai tempat di sini –sambil menunjukkan telunjuk ke dada-.

                Sebenarnya tidak terlalu istimewa hari ini. Karena diriku hanya duduk manis di rumah. Sembari sedikit membantu ibu meringankan pekerjaannya. Inilah saat-saat yang sangat kurindukan. Kadang di tengah malam kurindukan ibuku. Ingin sekali mencium tangannya pertanda baktiku padanya. Momen seperti ini yang kutunggu. Aku senang ibuku sudah menganggapku dewasa. Buktinya???  buktinya adalah sering ibuku berbagi cerita tentang kehidupan selagi aku tidak di rumah. Kehidupan keluarga dengan seluruh problem didalamnya. Dengan pengalamanku yang memang belum seberapa aku pun melontarkan solusi. Kadang ibuku bertanya masalah-masalah dien. Masalah-masalah klasik tentang kewanitaan. Senang hatiku merasa berguna bagi ibuku. Walau aku tak bisa memberikan materi tetapi ilmu yang jauh lebih berharga dapat kubagikan. Akan kubuktikan pada ibuku bahwa beliau merelakanku masuk mahad bukanlah keputusan yang salah. Akan tetapi, itulah keputusan yang paling tepat.

                Detik demi detik tak pernah berhenti berjalan. Beribu-ribu detik kuhabiskan waktu untuk ibu. Senja telah menjelma kutunaikan shalat magrib dan setelah itu kusimak bacaan Qurannya. Tertatih-tatih memang. Tapi aku sangat mengagumi semangat beliau. Di tengah kesibukan dan lemahnya badan karena bekerja, ibu tak pernah lupa membaca kalam ilahi. Subhanallah ibu, aku bangga dilahirkan dari sucinya rahimmu.

                Memanglah pantas jika Allah SWT mewajibkan bagi anak laki-laki lebih mengedepankan ibu daripada ayah atau bahkan istri yang merupakan belahan jiwa. Sungguh sangat logis jika kita pikirkan dari segi manapun juga. Semakin aku yakin bahwa di dalam semua syariat Allah yang terkadang aneh dalam pandangan manusia ternyata menyimpan berjuta-juta hikmah dan nyata. Ohh.. ibu, aku ingin bersenandung untukmu. Bukti cinta kasih anakmu ini kepadamu. Karena surgaku berada di telapak kakimu. Dan semoga Allah akan mengekalkan kita sekeluarga di jannah-Nya. Amien…

by new

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s