ATLANTIS = INDONESIA, BENARKAH ADANYA?????

ATLANTIS adalah INDONESIA,

 Benarkah??????

 

  1. Muqoddimah

Benua Atlantis adalah sebuah benua yang digambarkan benua yang sangat maju dan mempunyai tingkat peradaban yang tinggi. Diyakini peradaban-peradaban yang lahir pada masa itu berasal-muasal dari Atlantis.

Atlantis sudah menjadi pembicaraan hangat dari zaman ke zaman. Dimulai dari zaman sejak awal dikenalkannya Atlantis oleh Plato dengan segala pernyataannya yang dimana pada saat itu menjadi bahan pembicaraan setiap orang. Seiring berlalunya waktu, masalah Atlantis ini masih menjadi sebuah misteri. Sampai pada tahun 2005 seorang professor asal Brazil yang bernama Prof. Arysio Santos dalam bukunya yang berjudul The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005), yang di dalam bukunya menyatakan bahwa Indonesia adalah Atlantis. Tentu ini menjadi sebuah polemik baru bagi seluruh peneliti dan arkeolog dunia. Karena masalah tempat yang disinyalir sebagai Atlantis masih menjadi misteri dan masing-masing daerah banyak yang mengklaim bahwa merekalah keturunan Atlantis yang hilang. Dan para peneliti dalam negeri Indonesia pun masih banyak perdebatan. Ada yang mendukung pendapat Prof. Santos tadi. Akan tetapi, ada yang menolak dengan berbagai bukti ilmiah yang ada.

Maka dari itu, di sini penulis terdorong untuk membahas polemik yang ada dan berusaha menghadirkan berbagai macam pendapat tentang Atlantis ini. Dan penulis akan menarik kesimpulan dari berbagai pendapat yang ada.

  1. Pembahasan
  1. a.      Pengenalan Atlantis

Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, “pulau Atlas”) adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.

Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar “di seberang pilar-pilar Herkules“, dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”.[1]

Pada masanya pembicaraan masalah Atlantis hanya dianggap sebagai lelucon dan mitos saja. Dan dianggap itu hanyalah bentuk negara atau benua yang dikhayalkan Plato karena ketinggian peradaban dan majunya teknologinya.

  1. b.      Rahasia Atlantis
    1. a.      Berawal dari teori Plato

PLATO

Plato (427-347 SM) menulis sebuah buku berjudul Timaeus dan Critias. Isi buku itu menceritakan dialog-dialog yang memuat keberadaan Atlantis dengan gambaran detail yang menarik. Peta keberadaan benua itu sendiri ditunjukkan melalui kalimat-kalimat yang tertuang dalam bukunya. Banyak orang menafsirkan kalimat-kalimat itu menjadi sebuah peta menuju sisa-sisa Atlantis yang mungkin masih ada, Tidak semua orang paham dengan rahasia Atlantis yang sesungguhnya. Yang tersirat dari gambaran dalam buku Plato adalah seperti di bawah ini :

  1. Atlantis adalah sebuah negeri yang penuh kecerdasan, dengan kata lain semua orang yang hidup di zaman kerajaan Atlantis memiliki pengetahuan luas, berwawasan dan berkreativitas tinggi.
  2. Bisa berkomunikasi dengan binatang. Tingkah laku dan bahasa yang digunakan oleh para hewan di masa itu menjadi gambaran akan kehidupan yang rukun dan sejahtera, semua hidup berdampingan dengan damai.
  3. Memiliki lingkungan yang indah, tenang dan damai. Berkat karunia kecerdasan dan karakter manusianya yang pecinta damai, lingkungan tempat tinggal pun menjadi terpelihara dengan baik. Semua orang punya kesadaran sendiri untuk memelihara lingkungan tempat tinggalnya dan menjaganya tetap lestari.
  4. Memiliki teknologi tinggi. Pengetahuan dan kecerdasan yang dimiliki penghuni Atlantis membuat mereka menjadi kreatif dan terampil menciptakan berbagai inovasi demi kemajuan negerinya.
  5. Sistem pengobatan yang modern dan maju. Penghuni Atlantis memiliki teknik dan metode sendiri untuk memberikan pengobatan terhadap warganya yang sakit. Cara melakukan penyembuhan ini tergolong maju dan sulit untuk diimbangi oleh siapapun.
  6. Semua orang di Atlantis sangat peduli pada pendidikan setiap warganya. Semua orang diharapkan bisa belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya demi kemajuan diri sendiri dan lingkungannya.[2]

Sebuah gambaran negeri yang sangat sempurna menurut Plato.

  1. b.      Lokasi Atlantis

Dalam bukunya Timaeus, Plato hanya memaparkan sedikit informasi dekriptif mengenai letak Atlantis :                                   Terjemahan Latin Timaeus, dibuat pada abad pertengahan.

Kekuatan ini datang dari samudera Atlantik. Pada waktu itu, samudera Atlantik dapay dilayari dan ada sebuah pulau yang terletak di hadapan selat yang engkau sebut pilar-pilar herkules. Pulau itu lebih luas dengan gabungan Libya dan Asia dan pilar-pilar ini juga merupakan pintu masuk ke pulau-pulau yang lain di sekitarnya, dan dari pulau-pulau itu engkau dapat sampai ke seluruh benua yang menjadi pembatas laut Atlantik. Laut yang ada di dalam pilar-pilar Herkules hanyalah sebuah pelabuhan yang memiliki pintu masuk yang sempit. Namun, laut yang di luarnya adalah laut yang sesungguhnya, dan benua yang mengelilinya dapat disebut benua tanpa batas. Di wilayah Atlantis ini, ada sebuah kerajaan yang memerintah keseluruhan pulau dan pulau lain di sekitarnya serta sebagian wilayah benua lainnya.” (Timaeus)

Tidak disebutkan dengan rinci tempat atau lokasi Atlantis yang pasti. Inilah yang membuat para peneliti berbeda penafsiran tentang letak Atlantis yang sebenarnya.

  1. c.       Peradaban Atlantis

Plato menggambarkan peradaban Atlantis dengan berbagai kelebihan hingga seolah-olah Atlantis adalah surga yang nyaman untuk ditinggali. Hingga kesuburan tanah dan kemajuan peradaban ini bisa dijadikan petunjuk untuk mencari Atlantis yang hilang.

“Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besaa. Tanah itu juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persediaan yang melimpah di semua tempat.” (Critias)

“Inilah cara mereka hidup, mereka menjadi penjaga kaum mereka sendiri dan menjadi pemimpin bagi seluruh kaum Helenis yang dengan sukarela menjadi pengikut mereka. Lalu mereka juga menjaga jumlah perempuan dan laki-laki dalam yang sama untuk berjaga-jaga bila terjadi perang. Dengan cara mereka mengelola wilayah mereka dan seluruh wilayah Hellas dengan adil.  Atlantis menjadi sangat termasyhur di seluruh Eropa dan Asia karena ketampanan dan kebaikan hati para penduduknya.” (Critias)

“Mereka membangun kuil, istana dan pelabuhan-pelabuhan. Mereka juga mengatur seluruh wilayah dengan susuna berikut : pertama mereka membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan yang mengelilingi kota kuno. Lalu membuat jalan dari dan arah ke istana. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan nenek moyang mereka yang terus dipelihara oleh generasi berikutnya. Setiap raja menurunkan kemampuannya yang luar biasa kepada raja berikutnya hingga mereka mampu membangun bangunan yang luar biasa besar dan indah.”(Critias)

  1. d.      Kehancuran Atlantis

Satu lagi adalah dari kehancurannya. Konon, negara super maju ini hancur akibat bencana alam setelah mereka kelelahan saling berperang. Jika memang demikian adanya, tentu ini adalah suatu cara kehancuran yang dramatis.

“ Namun, sesudah itu muncul gempa bumi dan banir yang dahsyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam  perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudra luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudra di sana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tersebut.” (Timaeus)

Itulah beberapa tulisan dari Plato yang mendeskripsikan tentang Atlantis. Dan inilah yang menjadi sebab awal adanya pembicaraan masalah Atlantis.

Sedangkan dalam literatur  modern disebutkan

Novel Francis Bacon tahun 1627, The New Atlantis (Atlantis Baru), mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terletak di pantai barat Amerika. Karakter dalam novel ini memberikan sejarah Atlantis yang mirip dengan catatan Plato. Tidak jelas apakah Bacon menyebut Amerika Utara atau Amerika Selatan.

Novel Isaac Newton tahun 1728, The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Kerajaan Kuno Berkembang), mempelajari berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis.[3]

Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de Bourbourg, dan termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon, menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Aztek.

Pada tahun 1882, Ignatius L. Donnelly mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World. Karyanya menarik minat banyak orang terhadap Atlantis. Donnelly mengambil catatan Plato mengenai Atlantis dengan serius dan menyatakan bahwa semua peradaban kuno yang diketahui berasal dari kebudayaan Neolitik tingginya.

Lokasi yang diduga sebagai lokasi Atlantis adalah:

  1. c.       Pendapat yang menyatakan Atlantis adalah Indonesia

Penelitian dari Aryso Santos, ilmuwan  Brasil, yang selama 30 tahun meneliti tentang Atlantis menyimpulkan jika  Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Santos menulis buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of  Plato’s Lost Civilization” (2005)[5], yang menampilkan   33   perbandingan,   seperti   luas   wilayah,   cuaca,   kekayaan   alam,   gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia . Menurut buku yang dia tulis, Santos menyimpulkan yang tentunya tidak hanya berisi asumsi saja. Beberapa fakta yang ia yakini sebagai petunjuk bahwa Atlantis adalah Indonesia dipaparkan sebagai berikut.

  1. Atlantis adalah daratan dengan tanah yang subur, curah hujan tinggi jumlah kayu dan tumbuhan berlimpah (hutan) serta hewan beraneka rupa. Iklim dan kondisi seperti ini hanya ada di daerah tropis yang dimiliki Indonesia.
  2. Atlantis adalah negara kaya mineral, khususnya orichalcum (tembaga dan kuningan). Adapun merupakan penghasil tembaga terbesar ke-3 dunia
  3. Atlantis adalah negara kepulauan tempat kekuasaan Atlantis seluas Libya ditambah Asia kecil. Berada di sebuah pulau yang menguasai pulau-pulau lain dan sebagian benua. Jika dilihat dari hasil gambaran zaman es, ketika Paparan Sunda (Pulau  Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, bersatu dengan Asia)[6], menunjukkan area yang patut diduga sebagai Atlantis. Indonesia pun hingga sekarang dikenal sebagai kepulauan. Pendapat Santos ini seolah menguatkan pendapat kontroversial Oppenheimer soal letak Atlantis.
  4. Atlantis hancur karena bencana alam yang dahsyat. Jika kita telusuri, peristiwa tersebut mirip dengan catatan mengenai letusan Krakatau Purba. Kisah ini ada di sebuah teks Jawa Kuno (Pustaka Raja Purwa). Menceritakan bencana gempa bumi, air bah (tsunami), dan letusan gunung berapi. Karena dahsyatnya, banyak pulau yang dihuni tenggelam.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D sepakat dengan  pendapat yang dikemukakan oleh Santos mengenai lokasi Atlantis adalah Indonesia saat ini.[7] Berikut kutipan dari artikel yang dia tulis

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. [8]

 

Sundaland ketika menjadi daratan selama Zaman Es (20.000 – 5.000 tahun yang lalu) dengan jaringan sungainya yang dikenal sebagai Sungai Sunda Utara yang mengalir di dasar Selat Karimata dan bermuara ke Laut Cina Selatan, dan Sungai Sunda Selatan yang mengalir di dasar Laut Jawa dan bermuara ke Selat Makassar (diunduh dari http://www.frontiers-of-anthropology.blogspot.com, 3-3-2012)

 

  1. d.      Pendapat yang menyanggah

Prof. DR. R.P Koesoemadinata[9] membantah statement dari Santos yang tertuang dalam bukunya “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of  Plato’s Lost Civilization” (2005).  Beliau memulai sanggahan dari pendapat Plato :

Menurut Plato, kehancuran Atlantis terjadi pada 9600 SM atau kira-kira 11.600 tahun yang lalu. Angka ini dalam Geologi dikenal sebagai awal Kala Holosen, satuan pembagian waktu geologis termuda.  Dari sudut pandang dan temuan-temuan geologis dan arkeologis itulah sebenarnya telah sangat jelas bahwa penenggelaman Sundaland (yang menurut Prof Santos menjadi inti Atlantis di Indonesia) tidak terjadi dalam satu malam, jangka waktu penenggelaman seperti diungkapkan Plato. Penenggelaman paparan luas itu terjadi secara evolutif memakan waktu ribuan tahun. Itupun bukan oleh suatu gempa bumi yang diikuti tsunami raksasa, tetapi akibat perubahan iklim berupa pemanasan global dari zaman es ke zaman antar es.

Dari sisi arkeologis, ketika Atlantis diperkirakan oleh Plato berjaya sampai sekitar 11.600 tahun yang lalu, peradaban Indonesia purba tidaklah semaju seperti yang digambarkan oleh Plato. Kehidupan purbakala saat itu masih berada pada Zaman Paleolitik. Masyarakatnya hidup terutama dari berburu dengan hanya menggunakan bahan-bahan alam dari batu, tulang, atau kayu/bambu, mungkin juga menangkap ikan. Mereka tinggal di gua-gua atau teras sungai dan pantai. Tidak ada pendapat satu pun yang menggolongkan budaya Paleolitik seperti itu sebagai budaya yang dianggap maju dan tinggi dalam pengertian yang sepadan ketika Plato menuliskan bukunya. Bandingkan di waktu yang sama, bangsa Mesir dan Yunani telah berperadaban tinggi, di antaranya sudah sanggup membuat piramid atau parthenon.

Setelah membaca bukunya, tadinya terpikir bahwa Profesor Santos akan berargumen dengan temuan-temuan baru geologis dan arkeologis di Indonesia. Namun alasannya rupanya lebih didasarkan pada argumen-argumen mitologis dan kebetulan-kebetulan atau kesamaan linguistik. Peta-peta dan buku-buku kuno Ramayana, Mahabarata, Iliad, dan lain-lain, serta dongeng-dongeng yang tersebar di seantero dunia dari tradisi Yahudi Kuno, Kristiani Awal, kepercayaan-kepercayaan pagan yang menyembah berhala, adalah referensi untuk menyatakan argumennya bahwa akhirnya benua Atlantis yang hilang telah ditemukan (di Indonesia), seperti judul bukunya.

Begitupun alasan-alasan dari sisi geologi lainnya sama sekali tidak mendasar. Akhir Atlantis menurut Santos adalah letusan dahsyat Gunung Krakatau (Proto Krakatau) pada 11.600 tahun lalu. Dari referensi geologi tidak pernah ada catatan penentuan umur produk letusan itu. Krakatau dianggap Pilar Herkules yang sesungguhnya dengan pendamping Gunung Dempo di Sumatera Selatan. Sayangnya, di geologi catatan tentang letusan Gunung Dempo sangatlah miskin dan juga belum pernah diketahui meletus dahsyat. Akhirnya Profesor Santos menggunakan argumen letusan Toba 74.000 tahun lalu yang jelas tidak cocok dengan berakhirnya Atlantis yang menurut Prof. Santos sendiri (tentunya mengutip Plato) berakhir 11.600 tahun yang lalu.

Profesor Santos menyatakan bahwa kesimpulan penemuan Atlantis di Indonesia itu adalah setelah melalui riset selama 30 tahun. Anehnya, dari berbagai penelusuran, jelas sekali bahwa belum sekali pun Profesor Santos mengunjungi Indonesia. Sebagai seorang doktor fisika nuklir (dan juga mengaku sebagai ahli geologi) ternyata karya-karya tulisnya hanya di seputar Atlantis saja. Argumennya sama sekali tidak mengacu kepada bidang fisika nuklir, bahkan pada analisis geologi yang kritis.

Ada satu hal yang semakin meragukan argumennya. Pada referensi bukunya, Profesor Santos ternyata tidak satu pun mengacu pada literatur tentang geologi dan arkeologi Indonesia. Padahal telah sangat banyak referensi tentang geologi, arkeologi, mitologi, sejarah, antropologi, dan lain sebagainya tentang Paparan Sunda, Sundaland, atau Indonesia, baik yang ditulis peneliti-peneliti Indonesia dalam bahasa Inggeris, maupun mancanegara/internasional. Misalnya buku paling lengkap membahas prasejarah Indonesia oleh Peter Bellwood[10] sama sekali tidak dirujuk.

Terdapat beberapa orang yang juga tidak percaya pendapat Profesor Santos. Di antaranya adalah Awang H. Satyana[11]. Kutipan berikut ini diambil dari resume yang diposting di milis iagi.net[12] dari tulisannya yang sangat panjang:

Tesis-tesis yang diajukan Profesor Santos dalam bukunya “Atlantis: the Lost Continent Finally Found” (2005) tidak mempunyai bukti dan argumentasi geologi. Sundaland adalah paparan benua stabil yang tenggelam pada 15.000 – 11.000 tahun yang lalu oleh proses deglasiasi akibat siklus perubahan iklim, bukan oleh erupsi volkanik. Erupsi supervolcano justru akan menyebabkan musim dingin dalam jangka panjang.

Tidak ada bukti letusan supervolcano Krakatau pada 11.600 tahun yang lalu. Letusan tertua Krakatau yang dapat diidentifikasi adalah pada tahun 460 AD. Gempa, erupsi volkanik dan tsunami tidak pernah disebabkan beban sedimen dan air laut pada dasar samudera, tetapi akibat interaksi lempeng-lempeng tektonik.

Migrasi manusia Indonesia (Sundaland) ke luar setelah penenggelaman Sundaland, bertolak belakang dengan bukti-bukti penelitian migrasi manusia modern secara biomolekuler.Karena mekanisme-mekanisme geologi yang diajukan Prof. Santos tidak mempunyai nalar geologi yang benar, maka sangat diragukan bahwa Indonesia (Sundaland) merupakan benua Atlantis.

Sundaland ketika menjadi daratan selama Zaman Es (20.000 – 5.000 tahun yang lalu) dengan jaringan sungainya yang dikenal sebagai Sungai Sunda Utara yang mengalir di dasar Selat Karimata dan bermuara ke Laut Cina Selatan, dan Sungai Sunda Selatan yang mengalir di dasar Laut Jawa dan bermuara ke Selat Makassar [13]

Memang, akhirnya buku Profesor Santos hanyalah buku yang penuh argumen yang tidak berdasarkan kepada temuan ilmiah. Profesor Thomas Djamaluddin, peneliti/astronom dari LAPAN, berpendapat bahwa teori Profesor Santos hanya akan menjadi pseudo-sains yang seolah-olah seperti sains tetapi cara pengungkapannya lebih hanya kepada opini-opini penulis sendiri yang didasarkan pada mitos dan legenda, dan tidak didukung bukti-bukti geologis atau arkeologis yang meyakinkan.[14]

  1. Kesimpulan

Dari semua pemaparan yang telah penulis tulis dari pendapat Prof. Dr Santos yang berasumsi bahwa letak Atlantis adalah Indonesia. Ternyata dimentahkan oleh para ilmuwan dari dalam negeri. Argumen Prof. Santos dibantah dari berbagai segi. Dengan ini penulis berkesimpulan lokasi Atlantis masih misteri dan menunggu kreativitas para ilmuwan, arkeolog untuk menemukan serta membuktikan secara ilmiah letak dari benua Atlantis yang sebenarnya. Atau bahkan dikarenakan banyaknya klaim dari berbagai pihak dan sampai sekarang belum diketahui kebenarannya, mungkin negara Atlantis hanyalah khayalan Plato saja.

Dari beberapa kutipan, dikatakan bahwa Plato sendiri mempunyai keyakinan bahwa mencari kenyataan bukanlah di dunia ragawi, tetapi melalui konsep atau pikiran. Jadi kemungkinan itu hanyalah bentuk bayangan dan pengharapan Plato akan adanya negara di belahan timur sana yang peradabannya maju, teknologi canggih ditambah hasil bumi yang melimpah.

Wallahu ‘alam bi showab.

Bahan bacaan

  1. http://www.atlan.org/articles/checklist/
  2. Konspirasi penggelapan sejarah Indonesia. Era muslim digest
  3. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=2185.60;wap2
  4. The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005)
  5. Plato, Timaeus and Critias
  6. Wikipedia.org
  7. Budibumi.com
  8. www.Anneahira.com
  9. Atlantis Sunda Land Holistic-Scientific Research Institute

[1] Wikipedia.org

[2] Plato: Timaeus and Criteas. Full version: Web archive backup: Timaeus, translated by Benjamin Jowett; alternative version with commentary.

[4] Konspirasi penggelapann sejarah Indonesia. Era muslim digest hal. 25

[5] Diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Ufuk pada tahun 2009 dan mulai diedarkan di awal 2010.

[6] Inilah yang disebut Sundaland. Dalam buku Eden The East (1999) oleh Oppenheimer, Dokter ahli genetic yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai TamanEden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman. Menurut Oppenheimer, munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.

Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang.

Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagaiSundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.

Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan.Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera.

Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang hidup sebagai petani dan nelayan. Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan fenomena Taman Eden.

(Oki Oktariadi, peserta program Doktor Pengembangan Kewilayahan di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, Jawa Barat dalam penelitian doktoralnya) INTERNATIONAL CONFERENCE ON NATURE, PHILOSOPHY AND CULTURE OF ANCIENT SUNDA CIVILIZATION: Reinventing Sunda in Strengthening The National Culture and Promoting Cultural Diversity

[7]  Beliau menulis sebuah artikel di Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) 2 Otober 2006  dengan judul “Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia.”

[8] Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis

Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

Sumber: http://www.lautanIndonesia.com/forum/index.php?topic=2185.60;wap2

[9] Gurubesar Emeritus Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (mantan ketua IAGI 1973-1975)

[10] (Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago, 1985; edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia, 2000)

[11] ahli geologi dari BP Migas, beliau sempat didaulat untuk bedah buku Profesor Santos itu di akhir November 2009

[12] IAGI (International Association of Geosynthetic Installer )

[14] (http://nasional.vivanews.com/news/read/100793- ilmuwan_Indonesia__Atlantis_itu_pseudoscience. Diunduh Februari 2010).Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s