Kedudukan harta dalam islam

  1. 1.      Pendahuluan

Telah menjadi kemakluman bersama bahwa Allah menciptakan manusia di dunia untuk menjadi pengelola dan khalifah di bumi.  Allah pun menganugerahkan kekayaan dunia yang melimpah ruah kepada manusia untuk kesejahteraan hidup mereka.

Risalah islam diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Telah termaktub dalam Al-Quran bahwa islam telah sempurna dengan ditandai bahwa Allah ridha dan menyempurnakan islam dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kemudian turunlah ayat ke-3  surat Al-Maidah

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا……

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu…….” (QS.Al-Maidah : 3)

Dengan diturunkan ayat ini maka telah sempurna risalah islam bagi umat manusia. Segala seluk beluk kehidupan manusia semua telah diatur rapi dalam syariat Allah ini.

Memasuki diskursus yang lebih mendalam tentang kesyumulan syariat islam ini, maka penulis akan lebih mengerucutkan masalah dalam pembahasan kedudukan harta dalam islam. Dimana telah menjadi rahasia umum bahwa segala yang menyangkut kebutuhan dan kemaslahatan manusia, sedikit banyak akan melibatkan penggunaan harta didalamnya. Maka dari itu, penulis akan sedikit menjabarkan kedudukan harta  dan bentuk penjagaan harta dalam islam sebagai bukti bahwa dalam syariat islam mengandung maslahat bagi umat islam.

  1. 2.      Pembahasan

 

Salah satu unsur dhoruriyat yang tidak bisa dilepaskan dari pencapaian maslahat bagi manusia adalah harta. Harta adalah bagian dari kehidupan dan maslahat kehidupan akan tegak dengannya. Firman Allah SWT :

 

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا….

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan..” (QS. An-NIsa’ : 5)

 

Namun, pengertian harta dewasa ini telah mengalami spesialisasi makna. Banyak orang yang berpikir secara spontan manakala disebut harta maka yang mereka bayangkan adalah uang, uang dan uang semata. Makna yang benar dari pengertian harta adalah segala apa yang dimanfaatkan atau disimpan manusia baik dari perhiasan , uang atau sebagainya dan itu merupakan dzat yang berharga.[1]

 

Sedangkan menurut KBBI, harta adalah 1 barang (uang dsb) yg menjadi kekayaan; barang milik seseorang; 2 kekayaan berwujud dan tidak berwujud yg bernilai dan yg menurut hukum dimiliki perusahaan.[2]

 

Sudah dipastikan dan tidak bisa dipungkiri bahwa setiap individu manusia membutuhkan harta dalam pemenuhan kebutuhannya. Baik itu kebutuhan duniawi maupun ukhrawi. Untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia pun membutuhkan harta misalnya kebutuhan primer manusia yang meliputi sandang, pangan dan papan. Semua itu membutuhkan harta dalam pemenuhannya, jika tidak dipenuhi maka akan timbul madhorot didalamnya.

 

Bisa kita ambil contoh beberapa  tragedi yang menimpa saudara kita di belahan bumi yang lain. Karena peperangan, bencana alam dan sebagainya yang membuat mereka kehilangan harta dan berdampak buruk dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

 

Ini adalah kejadian yang terjadi pada tiap pribadi individu yang dampaknya mungkin hanya terkotak dengan keadaan seseorang. Jika kita lihat dari kehidupan bermasyarakat maka,

 

  1. Umat adalah kumpulan dari berbagai individu dengan segala bentuk permasalahan yang mereka hadapi,sehingga jika ada satu undividu yang kekurangan  maka  itu menjadi PR dan permasalahan  umat juga.
  2. Umat yang berkumpul  akan menggunakan harta untuk bertaabud kepada Allah . Dengan berdirinya  daulah islamiyah yang dimulai dari proses berjamaah yang paling kecil, yaitu keluarga hingga  terbentuk pemerintahan muslim yang akan mengatur segala seluk beluk dan memperhatikan kebutuhan setiap muslim.  Sehingga, dalam permasalahan muamalah harta akan diatur sedemikian rupa sesuai dengan syariat islam dan jauh dari pengaruh system ekonomi konvensional.
  3. Dengan adanya harta di tangan umat maka akan menjadikan umat tidak lagi membutuhkan musuh-musuhnya dan memotong habis ketergantungan umat ada mereka.[3]

Fenomena yang terjadi adalah beberapa negara muslim yang masih dalam taraf negara berkembang selalu bergantung pada negara maju yang notebene mereka adalah negara kafir tulen. Persoalan kepemilikan harta adalah factor utama yang mendasarinya walaupun ada factor lain yang berperan didalamnya.

 

Beberapa faktor di atas membuktikan betapa pentingnya esensi dari harta dan menjadi dhoruriyah bagi umat bahkan bagi tegaknya daulah islamiyah.

 

            Dan kedudukan harta di dalam dien Islam bukanlah hanya untuk disimpan dan bukan untuk dihambur-hamburkan, melainkan digunakan secara maksimal untuk kemaslahatan umat dan negara.

 

Beberapa sarana dalam penjagaan harta yang diatur dalam islam, ada 2 point besar yang perlu kita perhatikan

 

  1. Dari sisi aplikasi pengadaan harta yaitu dengan dorongan atau motivasi untuk bekerja.

Telah penulis paparkan di atas bagaimana urgennya harta bagi kelangsungan hidup manusia di dunia dan sarana untuk menambah amalan kebaikan dengan saling berbagi. Maka dari itu Allah memerintahkan dan mendorong hamba-Nya untuk mencari harta yang telah Allah hamparkan di dunia ini. 

 

Islam telah memerintahkan kepada umatnya agar bertebaran di muka bumi dalam rangka untuk mencari rizki, mencela meminta-minta, dan melarangnya kecuali dalam kondisi terpaksa. hal ini dimaksudkan untuk memuliakan seorang muslim dari kehinaan dan memompa semangat serta menjaga kemuliaan dirinya.

     Banyak sekali nash-nash yang berbicara masalah ini, baik dari al-qur’an maupun al-hadits yang berkaitan tentang anjuran untuk bekerja keras.

 

     Keutamaan Mata Pencaharian dan bekerja

 

Alllah Ta’ala  berfirman :

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” ( QS. An-Naba’ : 11 )

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Dan kami adakan bagi kalian dimuka bumi itu sumber penghidupan, amat sedikitlah kalian bersyukur”  ( QS. Al-A’rof : 10 )

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karuni (rezki hasil perniagaan) dari Robb kalian” ( QS. Al-Baqaroh : 198 )

فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“maka bertebaranlah kamu di muka bumi,  dan carilah karunia Allah.”

Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda :

 

ماأكل أحد طــــعاما قـط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإنّ نبــيّالله داود كان يأكل من عـمل يـده

“Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik dari pada makan dari kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah   Daud juga makan dari kerja tangannya sendiri” ( HR. Bukhari ).

 

     Para Nabi dan Rasul menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala  yang memberikan keteladanan dalam mencari rizki. Mereka bekerja keras untuk membiayai nafkah keluarga mereka.

     Sebagaimana sabda Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهٌِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرٌٌْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi   bersabda,”Tidaklah Allah  mengutus seorang nabi pun, kecuali ia menggembala kambing. Para sahabat bertanya, “bagaimana dengan anda? Beliau manjawab,”Ya, saya juga menggembala kambing penduduk Mekkah degan upah beberapa keping dinar.”[4]

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا

Dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah  bersabda, “Nabi Zakaria  adalah seorang tukang kayu.”[5]

     Demikianlah Rasulullah  senantiasa semangat bekerja keras tanpa perlu merasa rendah dengan pekerjaan yang dikerjakan.

 

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

Dari Zubair bin Awwam bahwasanya Nabi r bersabda, “salah seorang dari kalian membawa seutas tali dan mencari kayu bakar lalu memanggul di atas punggungnya lalu ia jual sehingga Allah  memenuhi kebutuhan hidupnya, adalah lebih baik baginya daripada mendatangi orang lain, kemudian ia meminta orang tersebut, baik orang itu memberinya atau tidak. “[6]   

Ibnu Abbas berkata : Adam seorang petani, Nuh tukang kayu, Idris penjahit, Ibrahim dan Luth petani, Sholeh pedagang, Daud pandai besi, Musa, Syu’aib dan Muhammad  pengemabala kambing.

     Sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu  berkata, “janganlah seorang dari kalian mengharap datangnya rizki dengan duduk berpangku tangan saja, sambil berdo’a, “Ya Allah, berilah rizki kepadaku’ padahal kalian sudah mengetahui bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas ataupun perak.”

     Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu  berkata, “Aku sangat membenci seseorang yang tidak berusaha (bekerja), baik untuk urusan dunianya maupun urusan akheratnya.”

     Imam Ahmad Rahimahullah ditanya : Apa komentar anda tentang seorang laki-laki yang hanya duduk dirumahnya atau dimesjid, sambil berkata, “aku tak perlu bekerja apapun, toh rizkiku akan datang sendiri’.

     Imam Ahmad menjawab : Dia adalah orang yang tidak mengetahui ilmu, apakah ia tidak pernah mendengar sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “sesungguhnya Allah Ta’ala  menjadikan rezkiku dibawah lindungan tombakku.” Beliau juga pernah bersabda tatkala melihat seekor burung ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pada sore hari dalam keadaan kenyang’.

     Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, Ibadah menurut pandangan kami bukan berarti engkau membuat kedua kakimu kepayahan dan orang lain payah karena melayanimu. Tetapi mulailah dengan mengurus adonan rotimu, setelah itu beribadahlah. Jika ada yang berkata, ‘bukankah Abu Darda’ pernah berkata, ‘Perniagaan dan ibadah yang sama-sama dikerjakan, tidak akan bisa bersatu?’ Dapat dijawab sebagai berikut, “kita tidak mengatakan, bahwa bukan perniagaan itu sendiri yang dimaksudkan. Tetapi karena memang perniagaan sesuatu yang pasti dibutuhkan manusia, untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyerahkan kelebihannya kepada orang lain yang membutuhkan, Tapi jika yang dimaksud adalah perniagaan itu sendiri, menumpuk  harta, untuk membanggakan diri dan tujuan-tujuan (duniawi) lainnya, maka ini adalah sesuatu yang tercela. Jadi hendaknya ikatan yang bisa dihimpun dalam mata pencaharian ada empat perkara: Dilakukan secara sah, adil, bijak dan mementingkan agama. [7]

  1. Dari sisi penjagaan atau preventif ketidakberadaan harta yang telah diperoleh.
    1. Pengharaman pencarian harta dari hal yang haram

 

Islam sangat memperhatikan segala seluk beluk kehidupan manusia. Bahkan hingga sampai apa yang masuk ke dalam perut kita.

Allah berfirman :

 

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 118)

 

  1. Pengharaman  menyiakan harta

 

Telah kita ketahui bersama betapa urgennya harta bagi kehidupan manusia. Baik untuk keberlangsungan hidua di dunia ataupun untuk menabung bekal yang akan dibawa saat menghadap Allah nanti.

 

Hingga Allah memerintahkan pada manusia untuk tidak menyiakan harta

 

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا(26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا(27)

 

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(QS. Al-Isra’: 26)

 

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.( QS. Al-Isra’:27)”

 

Dan Rasulullah bersabda,

 

وقد نهى النبي : (عن إضاعة المال)[8]

 

 

 

  1. Pengsyariatan hudud dalam permasalahan kriminalitas harta

 

Kesempurnaan syariat islam dibuktikan dengann kesyumulan syariatnya yang mengatur kehidupan manusia dari hal yang terkecil hingga paling besar. Dalam masalah kepemilikan harta, islam memberi hukuman bagi yang mencuri atau menggunakan harta yang bukan miliknya maka akan dikenai had oleh qodhi. Yaitu pelaksanaan potong tangan.

 

Orang-orang yang mengatasnamakan membela HAM, menganggap bahwa ini hukuman yang kejam. Mereka berbicara dengan hawa nafsu bukan dari pemahaman islam yang benar.  Kalau kita lihat, hokum islam tidak pernah secara serampangan menegakkan syariatnya. Tetapi perlu tahqiq al-manath dan berbagai syarat sesuai syar’I yang menyebabkan dia terkena hokum had. Itulah keadilan islam, itulah kemuliaan islam dan itulah bukti kesyumulan islam.

 

  1. Ganti rugi dalam perusakan harta

 

Sudah menjadi kewajiban bagi peminjam barang, atau  penggosob yang tentu sesuai persyaratan secara syar’I untuk dikenai hukuman ganti rugi

 

  1. Masrui’yah  untuk mempertahankan harta

 

Rasulullah bersabda,

 

من قتل دون ماله فهو شهيد [9]

 

 

  1. Pencatatan utang dan saksi atasnya

 

Untuk melindungi status kepemilikan harta maka administrasi keuangan baik dalam bentuk apapun itu membutuhkan saksi untuk  menghilangkan kerugian di salah satu pihak dan  usaha untuk menjaga kemaslahatan harta.

 

  1. Pengumuman harta temuan

Satu lagi bukti bahwa syariat islam adalah paling sempurna  dan adil yaitu jika ada seseorang menemukan barang maka barang tersebut harus dikembalikan dengan persyaratan tertentu pula.

Bisa kita lihat bagaimana para fuqoha’ telah menjelaskan dengan jelas mengenai masalah ini dalam kitab-kitab fiqih mereka.

 

 

Telah penulis paparkan bagaimana pandangan islam mengenai harta yang menjadi hal yang urgen bagi kehiduan manusia. Akan penulis berikan contoh praktek penyalahgunaan harta yang sering kita jumpai di sekitar kita, yaitu praktek korupsi.

 

 

Pengertian Korupsi

 

Secara etimologis, kata korupsi berasal dari bahasa latin corruption atau corruptus, dari kata kerja corrumpre yang berarti rusak atau hancur. Sedangkan secara terminologis, sebagaimana dalam Undang-Undang RI no. 31 tahun 1999 yang diubah dengan UU no. 20 th. 2001 tentang pemberantasan tidak korupsi, yang dimaksud korupsi adalah ; pertama, setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain dalam suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Kedua, setiap orang yang dengan tujuan menguntunkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.[10]

 

Pemahaman korupsi sendiri mulai populer di barat pada permulaan abad ke-19, setela revolusi Prancis, Inggris dan Amerika, yaitu ketika prinsip pemisahan antara keuangan umum atau keuangan negara dan keuangan pribadi mulai diterapkan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi khususnya dalam soal keuangan dianggap sebagai korupsi.[11]

 

Korupsi Dan Syari’at Islam

 

Setidaknya, landasan-landasan al-Qur’an dalam menetapkan hukum korupsi tertera dalam beberapa ayat berikut :

 

1. Surat Ali Imran : 161

 

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

 

Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

 

2. Surat an-Nisa : 58

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.”

 

3. Surat Al-Baqarah : 188

 

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”

 

4. Surat Al-Zukhruf : 65

 

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ

 

“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim Yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).”

 

5. Surat Al-Anfal : 27

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

 

Demikianlah beberapa ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi landasan penetapan hukum keharaman korupsi. Syari’at Islam diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat Islam.

 

Salah satu hadits populer yang bercerita tentang korupsi adalah sebagai berikut :

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِيِّ قَالَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمْنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مِنْ الْأَنْصَارِ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اقْبَلْ عَنِّي عَمَلَكَ قَالَ وَمَا لَكَ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا قَالَ وَأَنَا أَقُولُهُ الْآنَ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَجِئْ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِيَ عَنْه انْتَهَى

 

“Abu Bakr bin Aby Syaibah telah menceritakan kepada kami, Waki’ bin Jarah telah menceritakan kepada kami, Isma’il bin Khalid telah menceritakan kepada kami dari Qais bin Aby Hazim dari ‘Addy bin ‘Amirah al-Kindy ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa diantara kalian yang aku serahi suatu pekerjaan, kemudian dia menyembunyikan dari kami (meskipun) sebuah jarum atau sesuatu yang lebih kecil dari itu, maka itu adalah ghulul (korupsi) yang akan ia pertanggungjawabkan kelak di hari kiamat. Kemudian ‘Addy bin ‘Amirah berkata: lalu seorang laki-laki berkulit hitam dari Anshar – dan sepertinya saya pernah melihatnya – berdiri sambil berkata: wahai Rasulullah, kalau demikian, saya akan menarik kembali tugas yang anda berikan kepada saya, Rasulullah balik bertanya: ada apa denganmu ?, ia menjawab: saya mendengar anda berkata begini dan begini, Rasulullah berkata :sekarang aku sampaikan barangsiapa yang aku serahi suatu pekerjaan, hendaklah ia kerjakan sedikit banyaknya, apa yang dibolehkan untuknya ia boleh mengambilnya dan apa yang memang dilarang, maka hendaklah ia menahan dirinya.”[12]

 

Hadits di atas merupakan satu diantara sekian hadits Nabi yang menceritakan kasus ghulul. Terma ghulul sendiri dalam bahasa arab memiliki arti kalung besi ( thauqun min hadid ) dan kemudian dikonotasikan kepada pengkhianatan, kata Ghalla berarti akhana (berkhianat).  Dalam hadits di atas dijelaskan seperti apa perbuatan ghulul tersebut, yakni menyembunyikan / mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya ketika diserahi suatu pekerjaan. Dalam terma modern, ghulul dapat disamakan dengan korupsi, meskipun hanya merepresentasikan sebagian dari makna korupsi, karena sejatinya, korupsi dalam terminologis sekarang mencakup muatan makna pelanggaran yang beragam, semisal penggelapan ( ghulul ), Money Politics ( Risywah), pencurian ( sirqah), dsb. Korupsi sendiri merupakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Perilaku Pejabat publik, baik poltikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

 

Contoh realita dari kasus suap, korupsi dan pencucian uang yang dilakukan oleh punggawa PKS, Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaq . Kasus ini menjadi berita hangat yang menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Sebuah partai dakwah berlabel islam pun terjerat kasus penyalahgunaan harta. Secara ilmu, sebenarnya mereka sudah mengetahui bagaimana konsep hifdzul mal dalam islam. Tetai godaan dan fitnah dunia telah menguasai hati dan pikiran mereka.[13]

 

Inilah salah satu contoh yang dapat penulis paparkan dalam persoalan penyalahgunaan harta dan jauh dari konsep hifdzul mal yang ada di dalam syariat islam yang sempurna.

 

  1. Kesimpulan

 

Dari paparan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa konsep islam telah sempurna dalam melakukan hifdzul mal. Dimana islam telah menempatkan harta dalam posisi yang tepat untuk kemaslahatan umat. Bukan hanya semata-mata untuk disimpan, dihamburkan dan disalahgunakan seperti perlakuan kebanyakan orang dewasa ini.

 

Dengan mengetahui salah satu bentuk penyalahgunaan harta  maka kita bisa menghindari penyakit itu dan menjadikan kita lebih berhati-hati dengan penyakit yang lainnya.


[1] Maqashid Syariah Islamiyah, Muhammad Saad Al-Yubiy, hal. 276, darul Ibnu Jauziy, Madinah Munawaroh

[2] Tesaurus Indonesia, Tim Redaksi Tesaurus pusat bahasa, hal 186, Depatemen Pendidikan Nasional, 2008

[3] Maqashid Syariah Islamiyah, Muhammad Saad Al-Yubiy, hal. 277, darul Ibnu Jauziy, Madinah Munawaroh

[4]  (HR. Bukhari, kitabul ijarah, no.  2262).

[5] (HR. Muslim, kitabul fadhail. Ibnu Majjah kitabut tijarah dan Ahmad)

[6] (HR. Bukhari, kitabuz zakat 1471, An-Nasa’i kitabuz zakat dan Ahmad)

[7] Minhajul Qosidin: 99-100

[8] Hadist dari Bukhari dari shahihnya, kitab zakat (1477) 3/340

[9] Riwayat Bukhari dalam shahihnya, kitab madzolim (2480) 5/123

[10]  Amzulian Rifa’I, “ Praktik Korupsi Sstemis : Berdayakah hukum “, 5-6

[11] Yunahar Ilyas, dkk., Korupsi dalam Perspektif Agama-Agama (Yogyakarta: LP3 UMY, 2004), ix

[12] Sahih Muslim 3415, Sunan Abu Daud no. 3110,Musnad Ahmad no. 17.056

[13] Harian detik sore, 18 mei 2013 eDiSiNO. 851/TAHUN Ke-2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s